EXPOSE Digital TV 19" - 43" 4K Android Smart TV
Garansi 5 Tahun | DVB T2 + Tsunami Warning | Netflix, YouTube, Google TV | Gratis Bracket
*Link affiliate, harga bisa berubah sewaktu-waktu
Menhut Raja Antoni Tinjau Karhutla di Kubu Raya: Hotspot Kalbar Turun, Tapi Asap Masih Jadi Tantangan
KUBU RAYA, KALBAR,FOKUSNEWS88.COM - Menteri Kehutanan Raja Antoni kembali turun langsung meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Peninjauan dilakukan di Desa Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Menhut didampingi Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, perwakilan BMKG, jajaran TNI-Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Menhut Raja Antoni menyampaikan bahwa berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per 23 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB, jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar mengalami penurunan signifikan menjadi 28 titik.
“Kalbar sendiri ya, 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan 1 ada di Kubu Raya,” ujar Menhut Raja Antoni di lokasi.
Ia menjelaskan, meskipun secara satelit jumlah hotspot menurun, kondisi di lapangan masih perlu kewaspadaan. Saat peninjauan, api di permukaan sudah tidak terlihat, namun asap tipis masih muncul dari dalam lahan.
“Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut ya. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral,” tegasnya
Menhut menambahkan, penurunan hotspot ini merupakan hasil kerja kolaboratif di lapangan. Operasi pemadaman darat oleh Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, BNPB, dan relawan Masyarakat Peduli Api berjalan bersamaan dengan operasi pemadaman udara dan modifikasi cuaca.
Lebih lanjut, Menhut memaparkan dinamika karhutla secara nasional yang sangat fluktuatif. Jika pada minggu sebelumnya konsentrasi hotspot berada di Kalimantan, data per 23 Agustus malam menunjukkan pergeseran ke wilayah Sumatera.
Tercatat hotspot terbanyak berada di Sumatera Selatan dengan 127 titik, disusul Riau 54 titik, dan Jambi 47 titik.
“Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi. Oleh karena itu, kita tetap siaga di semua wilayah rawan,” kata Menhut.
Kementerian Kehutanan memastikan akan terus memperkuat patroli terpadu dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia.
Red

